Sabtu, 21 Desember 2013

Resep Nasi Liwet Sunda Uyee...



Ada yang tahu nasi liwet? Itu salah satu makanan favorit saya, tiap kali pulang kampung pasti saya bikin nasi liwet di rumah. Selain bakar ikan dan menu pete atau jengkol tentunya.

Nasi liwet adalah salah satu masakan khas Indonesia yang pada umumnya menggunakan beras atau nasi sebagai makanan pokoknya. Nasi Liwet sudah lama ada di tanah air, mungkin dari ujung barat di Sabang sampai ujung timur di Merauke sana. Dari ujung bumi sampai ujung langit, hehe.

Penasaran bagaimana cara membuatnya, oke langsung saja yuk kita bahas, berikut adalah Resep Nasi Liwet Sunda :

Pertama kita buat dulu nih Nasi liwetnya, nanti setelah itu kita buat lauknya yech...:)

Bahan-bahan :
  • Beras 300 grm, cuci bersih dan tiriskan
  • bawang merah, 3 butir  iris tipis
  • 1 batang serai, memarkan
  • 1 lembar daun salam
  • 2 sdm minyak untuk menumis
  • 1 lembar daun pisang untuk alas
  • Air secukupnya
  • Garam secukupnya


Cara Membuat Nasi Liwet Sunda :
  1. Pertama-tama, tumis bawang merah dalam panci yang digunakan untuk memasak nasi sampai layu dan terasa harum.
  2. Setelah itu, masukan beras, garam dan serai, aduk sebentar.
  3. Masukan air, masak sampai mendidih sambil diaduk supaya tidak gosong
  4. Setelah air sedikit menyusut, kecilkan api dan tutup pancinya.
  5. Menjelang matang masukan tumis ikan asin diatas nasi yang telah dialasi dengan daun pisang.
  6. Masak sampai nasi matang.


Berikut cara membuat tumis ikannya,

Bahan-bahan:
  •  ikan asin, 200 gram potong-potong (bisa pake teri) goreng garing
  • bawang merah, 3 butir
  • cabe merah, 3 butir
  • cabe hijau, 1 butir
  • cabe rawit, 5 butir
  •  2 sdm minyak untuk menumis
    Untuk membuatnya pasti udah pada bisa yaa... hehe...
    
    Selamat mencoba...!!!



forum.jalan2.com

Jumat, 20 Desember 2013

Tips Belajar yang Efektif

Segala sesuatu ada ilmunya. Ketika kita mengerjakan suatu pekerjaan tanpa ilmu, maka bisa dipastikan kita akan mengalami kesulitan. Bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun. Sebaliknya, dengan ilmu semuanya menjadi mudah dan hasilnya pun tentu memuaskan. Begitu pula dalam belajar. Kenapa sebagian dari kita sangat sulit untuk menyerap sebuah pelajaran sementara yang lainnya enjoy aja? Ya, karena yang susah belajar itu biasanya belum tau tips dan trik belajar yang baik dan efektif.

Seorang pakar psikologi di bidang pendidikan, Bob Nelson memiliki trik sistem belajar yang cukup efektif. Dalam bukunya yang berjudul The Complette Problem Solving, beliau memperkenalkan dengan nama MURDER, yang dimaksud disini bukan artinya Seorang Pembunuh, tetapi sebuah singkatan yakni Mood, Understand, Recall, Digest, Expand, Review. Tapi, boleh juga deh kalau diartikan pembunuh kebuntuan (belajar). Hehehe...

1. Mood -Suasana hati

Dalam belajar upayakan suasana yang menyenangkan, suasana hatipun akan terdorong menjadi senang untuk belajar. Jangan menunggu suasana hati kita menjadi enak baru kita belajar, tapi kitalah yang menciptakan suasana nyaman dan enak untuk belajar. Caranya tentu bisa bermacam-macam. Bisa dengan mensetting tempat belajar sedemikian rupa. Atau dengan menyiapkan perlengkapan yang kira-kira diperlukan selama belajar. Lebih bagus lagi kalau kita sudah bisa mengatur suasana hati kita dengan belajar untuk menahan marah, menghilangkan sifat dengki, membersihkan sifat buruk sangka, dan selalu berfikir positif setiap saat dan waktu.

2. Understand - Pemahaman

Satu hal yang membuat kita cepat bosan belajar adalah ketika kita menemukan hal yang tidak kita pahami dari apa yang kita pelajari. Maka sebaiknya kita jangan sungkan untuk bertanya kepada orang lain yang lebih tahu saat pemahaman kita mentok. Lebih mudah lagi kalau sudah terhubung ke internet. Kita akan dengan mudah menemukan hal-hal yang belum kita pahami kepada Prof. Dr. Google atau Drs. Yahoo, mislanya. Hal-hal yang tidak mudah atau sulit dipahami hendaknya diberi tanda seperti garis bawah atau diberi warna seperti stabilo kalau kita masih belum mendapatkan pemahaman yang lebih jitu.

3. Recall - Pengulangan

Hendaknya setelah belajar dalam satu tahap /sebagian maka sebaiknya diulang sekali lagi lalu melanjutnya ke bagian lainnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melakukan pembelajaran dan pemahaman secara bertahap. Sehingga otak kita bisa lebih rileks. Beda lagi kalau kita belajar sekaligus dalam satu hari atau satu malam saja ketika mau ulangan/ujian. Ini jelas akan jauh dari pemahaman yang sempurna. Yakinlah sesuatu yang terus menerus kita ulang lama kelamaan kita akan dapat mengingatnya secara otomatis tanpa harus banyak menguras otak.

4. Digest - Menelaah

Setiap usai mempelajari sesuatu bagian maka perlu melakukan telaah seperti mengajak diskusi dengan teman teman atau dengan orang yang dianggap lebih senior, ini akan membantu dalam peningkatan pemahaman terhadap sesuatu. Menelaah selain berguna untuk mengingat tapi juga berguna untuk mengembangkan pemahaman kita menjadi lebih luas.

5. Expand - Pengembangan

Jangan terpaku pada satu referensi saja, cari referensi lain yang lebih banyak untuk memperkaya pemahaman kita. Terlebih kalau posisi kita sebagai seorang guru, tentu harus menyiapkan berbagai kemungkinan pertanyaan atau permasalahan yang akan muncul saat pembelajaran berlangsung. Yang perlu kita pahami adalah semakin kita menggali suatu permasalahan maka akan semakin luas dan semakin banyak ilmu yang belum kita ketahui. Dan ini akan semakin menarik bagi kita untuk terus belajar dan belajar. Belajar bukan lagi untuk sekedar angka nilai atau sebuah kewajiban, tapi sudah bergeser menjadi sebuah kebutuhan dan kesenangan.

6. Review - Mempelajari kembali 

Mempelajari kembali pelajaran yang sudah dipelajari itu hingga sudah paham dan menguasai. Sehebat-hebatnya kita kadangkala ada saja lupanya. Maka untuk menghindari itu, mengulang/mempelajari kembali permasalahan atau buku-buku yang sudah pernah kita pelajari menjadi perlu adanya. Terkadang hal ini juga bisa memberikan pemahaman dan nuansa baru yang berbeda dengan pemahaman kita sebelumnya saat mempelajari hal yang sama. 

Selamat mencoba!

Kamis, 19 Desember 2013

Pemimpin Anti Kritik



Apakah ada orang yang tidak pernah salah? Rasanya tidak ada. Setiap kita punya salah dan pernah berbuat salah. Hanya saja ada orang yang menyadari kesalahannya ada orang yang salah tapi tidak merasa salah serta tidak mau memperbaiki kesalahannya. Sabda Rasulullah SAW.,"Setiap anak Adam (manusia) pernah berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang mau bertaubat." 

Taubat dalam konteks ini meliputi menyesali kesalahan, memohon ampun, berniat untuk tidak mengulangi kesalahan, memohon maaf kepada orang yang pernah disakiti, dan yang terpenting bagaimana ia bisa berbuat lebih baik dari apa yang dilakukannya saat ini. Dan, salah satu ciri orang yang mau taubat dalam konteks lembaga adalah seorang pemimpin yang mau menerima kritik dari bawahan atau pihak lain dan mau mengubah kebijakannya andai ia salah atau kurang memenuhi rasa keadilan bawahannya. Ia tidak segan mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaikinya.

Sejatinya, kritik merupakan inti dari demokrasi. Kehadirannya tidak boleh dinafikan begitu saja karena ia menjadi pengingat yang secara alamiah memberikan keseimbangan. Sepahit apa pun kritikan, ia tetaplah obat yang tidak saja berjasa secara cepat menunjukkan kekeliruan, tetapi sekaligus secara cepat pula menuntun kita menemukan arah yang benar. Jadi kritik sejatinya bukanlah musuh yang layak dijauhi. Karena sesungguhnya, dia lah kawan sejati.

Kritik adalah cara yang baik untuk mengetahui kekurangan kita. Oleh karena itu, keberadaan pihak yang mengkritik harusnya disyukuri bukan malah dimusuhi atau dijauhi. Jangan merasa dipojokkan karena kritik, karena ia adalah obat penyembuh yang manjur bagi kita. Maka, pahamilah kritik secara benar. Seorang kepala sekolah di Malang, misalnya, tidak sampai perlu mengeluarkan dua siswanya hanya karena orang tua dua bocah itu tidak sependapat dengan metode belajar mengajar yang diterapkan sekolah tersebut. Juga seorang Pritha Mulyasari, tidak seharusnya menjalani proses hukum yang rumit, dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit, hanya karena mengkritik layanan rumah sakit itu yang buruk.

Seorang pemimpin yang anti terhadap kritik, biasanya adalah pemimpin yang anti terhadap perubahan. Ia tidak mau belajar dan berkembang. Apa yang menurutnya benar harus diikuti dan tidak boleh ada orang yang membantahnya. Padahal, ilmu terus berkembang, siapa tahu apa yang disampaikan oleh pihak yang mengkritik itu adalah ilmu yang memang baru dan belum diketahui oleh sang pemimpin. Inilah bukti kesombongan dari seorang pemimpin yang lambat laun akan membawanya pada kehancuran. 

Pemimpin pasti paham untuk apa jabatan itu digunakan. Inilah sedekah terbaik yang bisa dilakukannya, membuat kebijakan yang bermanfaat bagi masa depan sekolah.

Sosok pribadinya sangat mempesona. Mempesona bukan karena tak ada kesalahan yang dibuatnya. Ingat, pemimpin bukan manusia setengah dewa kata Iwan Fals. Dia tetap manusia biasa yang kerap lakukan kekeliruan. Kekeliruan itu bisa dimaafkan. Ini namanya proses belajar dan pendewasaan diri.

Jika dia mau terima kritik karena kesalahannya, lalu dia segera perbaiki diri, ini baru TOP MARKOTOP. Tapi, jika egonya tak mampu ditaklukkan, pasti hasrat serta nafsu akan selalu menjadi pemandu dalam mengambil kebijakan. Hasilnya apa? Pastilah keresahan, kegundahan dan kerusakan bagi keberlangsungan sistem lembaga atau organisasi. 

Maka, pilihlah sosok pemimpin yang mampu perankan dirinya jadi pemimpin bukan pimpinan. Cirinya sederhana saja, telisik sisi pribadinya lalu cari tahu apakah dia sosok yang rendah hati. Karena St. Augustine pernah berujar, “Anda ingin naik? Mulailah dengan turun. Anda ingin membangun menara tinggi menjulang? Mulailah dengan menanam fondasinya, yaitu kerendahan hati”. Sangatlah tepat apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW., "Barangsiapa yang rendah hati maka Allah akan meninggikan derajatnya, dan barangsiapa yang tinggi hati (sombong) maka Allah akan merendahkan derajatnya." 

Maka, bagi siapapun para pemimpin yang sombong dan tidak mau menerima kritik, sadarlah dan berhati-hatilah, kalau Anda sekalian tidak mau merubah sikap, bersiap-siaplah untuk sebuah kehancuran. Dan bagi kita para bawahan, teruslah untuk mengingatkan, jangan pernah bosan untuk sebuah kebaikan. Karena hancurnya lembaga karena pemimpin yang angkuh, sombong, mau menang sendiri, dan tidak amanah, setidaknya akan membawa imbas yang besar bagi kita yang berada si sekitarnya.

Wallahu a'lam...:)