Minggu, 26 Januari 2014

Pemimpin yang Dicinta dan Didamba

Kita sudah sering menyaksikan fenomena perubahan drastis seseorang yang tadinya begitu supel tapi tiba-tiba berubah setelah menjadi pimpinan dari suatu lembaga. Ia menjadi tertutup, kaku, dan bahkan kadang-kadang menakutkan bagi anak buahnya. Seorang teman pernah berpesan kepada saya,"Pak Amir, kalau seandainya suatu saat nanti jadi pimpinan jangan sampai berubah sikap ya." Begitu katanya. Karena menurut pengalaman dia banyak orang yang awalnya sangat dekat dengan orang lain tapi berubah setelah mempunyai posisi penting.

Sejatinya, menjadi pemimpin bukanlah alasan bagi kita untuk menjauh dari bawahan kita. Pemimpin adalah harapan bagi yang dipimpin. Pemimpin adalah penyambung lidah bagi mereka. Alih-alih semakin jauh justru seharusnya semakin dekat, semakin intens mendengarkan keluh kesah mereka. Sering kali yang awalnya disukai tiba-tiba menjadi orang yang sangat dibenci. Apa yang menyebabkan hal itu? Sungguh alasannya sangat simpel sebenarnya. Karena ia memposisikan dirinya sebagai orang yang harus dihormati dan dimuliakan. Itulah ego diri yang akan merusak citra dirinya di mata bawahan dan orang-orang sekitarnya. 

Sebagai pemimpin harusnya kita melepaskan keegoan diri kita. Kita harus siap menjadi tempat curhat, kita juga harus siap dikritik, siap dikompalin, siap untuk mengayomi, bahkan kita harus siap dicaci maki. Kita jangan lagi berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Kita milik mereka, kita milik bawahan, bahkan kita seharusnya menempatkan diri sebagai pelayan mereka, bukan sebagai bos. Lucunya, saya menemukan ada sebagian pimpinan kita yang merasa bahwa ia didzalimi bawahannya saat mereka dikritik atau kebijakannya diabaikan dan titahnya tidak dituruti. Padahal, bagaimanapun tuntutan adalah sebuah keniscayaan. Tinggal bagaimana kita menempatkannya, apakah kita jadikan sebagai masukan dan bahan introspeksi diri ataukah sebagai serangan. 

Untuk menjadi pemimpin yang didamba dan dicinta sebenarnya sangat simpel. Tempatkan diri kita seolah-olah berada dalam posisi mereka. Apa yang mereka inginkan? Atau, kita ingat-ingat, apa yang kita inginkan saat dulu kita berada di posisi mereka? Setelah itu kita inventarisir, susun dalam skala prioritas, tempatkan yang terbaik di atas disusul yang baik, yang biasa, yang kurang baik, sampai yang tidak baik untuk dilaksanakan. Laksanakan yang sangat mungkin untuk kita laksanakan. Libatkan bawahan untuk memutuskan suatu kebijakan yang bersentuhan langsung dengan mereka. Tidak hanya itu, kita juga harus terus mendengar keinginan dan keluh kesah mereka. Karena biasanya semua berkembang sesuai dengan keadaan dan kemajuan zaman. Seorang pemimpin harus terus mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi. Berpikir lebih rasional dan tidak emosional.

Di samping itu, seorang pemimpin juga harus bisa mengambil hati bawahan dan customer-nya. Dalam konteks sekolah, misalnya, pemimpin harus pandai memberikan senyuman dan pujian kepada bawahan yang punya prestasi tertentu. Bersikap arif dan bijak dalam menyikapi bawahan yang melanggar norma. Jangan buru-buru mengambil kesimpulan sendiri tanpa ada konfirmasi. Kaitannya dengan orang tua atau customer sekolah, berikan mereka pelayanan yang mengesankan lebih dari yang mereka perkirakan (exellent customer service). Tampung usul dan saran mereka dan gunakan usulan itu kalau dirasa baik. Cari potensi orang tua siswa yang bisa dijadikan sebagai narasumber pada salah satu kegiatan sekolah. Dari mulai yang kerja kasar sampai yang pekerjaannya dalam posisi yang lebih "tinggi", kita jadikan mereka sumber belajar anak, sehingga mereka akan sangat merasa memiliki terhadap lembaga yang kita pimpin. 

Jangan lupa, sering-seringlah berbaur bersama bawahan dan stakeholders kita. Jangan takut menjadi hilang pengaruh dan wibawa. Justru itu adalah sarana yang baik untuk mendengar masukan yang lebih jujur dari mereka. Kita harus menyadari bahwa seringkali dalam situasi yang formal masukan yang datang kepada kita seringkali terhambat oleh keformalan itu dan menjadikan bawahan atau unsur lainnya menjadi tidak jujur. Ada rasa ketakutan kalau-kalau dengan pendapat yang nyeleneh  atau sedikit pedas mereka akan mendapatkan akibat buruk atau sanksi baik secara resmi dari lembaga atau sanksi psikologis dari pimpinannya. Bisa dicemberutin, atau tidak ditegur sapa.

Intinya, jadilah pemimpin yang berbuat, berucap dan berprilaku jujur baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Jangan dibuat-buat atau terlalu formil dalam menjalankan tugas kepemimpinan kita. Jadikan suasana yang senyaman mungkin untuk semuanya. Insya Allah semua akan betah dan percaya pada lembaga yang kita pimpin. Wallahu a'lam. 

Sabtu, 25 Januari 2014

Kewajiban Hijrah dari PLPG ke PPG

Dengan adanya program PLPG yang diadakan pada Dinas Pendidikan sebenarnya pemerintah sudah dibohongi oleh sebagian guru yang tidak bertanggung jawab. Banyak oknum guru dengan berbagai cara melakukan apapun asal bisa mengikuti PLPG yang pada akhirnya bisa mendapatkan sertifikasi sebagai guru. Kebohongan yang sering terjadi (sejauh pengamatan saya) adalah sebagai berikut:
  1. Mark up masa kerja. Sebagian oknum guru melakukan kebohongan dengan cara merubah SK mengajar menjadi lebih lama. Sehingga yang tadinya kalau mengikuti masa kerja sesungguhnya dia belum bisa ikut PLPG jadi bisa ikut. Atau kadang di tempatnya kerja saat ini dia belum cukup masa kerjanya, ia cari sekolah lain dan dia dengan berbagai cara meminta sekolah itu mengeluarkan SK atas namanya padahal ia tidak pernah mengajar di sana. 
  2. Legalisir ijazah palsu. Banyak guru yang karena kesulitan untuk mendapatkan legalisir ijazah dari Perguruan Tinggi dimana ia kuliah dulu, entah karena jauh atau memang malas, mereka memperbanyak legalisir ijazahnya dengan cara scanning atau foto copy warna.
Apakah pihak dinas pendidikan tidak tahu akan kondisi ini? Sayangnya, ternyata mereka tahu keadaan ini. Maka terjadilah kebohongan berjama'ah. Dengan dalih mau membantu atau demi kesejahteraan mereka sudah mengorbankan kejujuran. Pertanyaan yang kemudian muncul, halalkah uang yang mereka peroleh hasil dari kebohongan? Kalau itu haram, tidak takutkah kita akan akibat yang harus kita dan keluarga juga keturunan kita tanggung? Sungguh mengerikan ketika kita meracuni diri dan keluarga dengan barang haram.

Belum berhenti sampai di sana. Kita juga menyaksikan dengan kasat mata, setelah sebagian guru kita ikut PLPG dan mendapatkan sertifikasi, ternyata kinerjanya sama sekali tidak berubah. Sehari dua hari mungkin mereka masih ingat materi PLPG dan mencoba menerapkannya. Tapi, apa yang terjadi setelah seminggu, dua minggu, sebulan dua bulan? Ternyata kebanyakan mereka kembali kepada pola mengajar yang sebelumnya yang kuno, kolot, dan ngasal. Hasil pendidikan selama PLPG seolah hilang tak berbekas.

Untungnya, hal ini segera disadari pemerintah. Wacana penghapusan PLPG dan hanya ada PPG merupakan langkah yang patut diapresiasi. PPG lebih menjanjikan guru menjadi lebih profesional, dan ilmu yang diperoleh pun lebih matang. Semoga. Wallahu a'lam. 

Kamis, 23 Januari 2014

Pendidikan Profesi Guru

Program sertifikasi guru oleh pemerintah adalah upaya untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru. Saat ini ada beberapa program yang dijalankan pemerintah yaitu PLPG, portofolio dan PPG. Namun, sudah dipastikan nantinya hanya PPG yang akan dijalankan pemerintah.

Pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) akan berakhir pada tahun 2014 ini. Selanjutnya, mulai tahun 2015 sertifikasi guru hanya akan diberikan melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan selama setahun. PPG sendiri nantinya akan dibagi menjadi dua jalur pembiayaan, yaitu dibiayai pemerintah melalui jalur seleksi dan biaya pribadi. 

Program PPG dinilai lebih tepat dilaksanakan, karena akan lebih menjamin kualitas keilmuan dan profesionalisme guru dibandingkan dengan PLPG yang hanya dilaksanakan 9 sampai 10 hari. Guru akan mempunyai ilmu yang lebih matang dan bukan hanya formalitas semata.

Untuk sekedar gambaran tentang apa dan bagaimana Pendidikan Profesi Guru (PPG), sahabat bisa lihat dan download di sini.

Rabu, 22 Januari 2014

Menata Kata Menjaga Sikap

Saya memang sering sekali ke sekolah dan senang berlama-lama di sana. Di samping karena sementara ini keluarga ada di kampung, juga karena di sekolah saya bisa menambah informasi dan pengetahuan dengan leluasa. Tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi, ternyata telpon berasal dari istri dan anak saya. Kami memang sudah biasa telponan setiap hari, walaupun yang dibicarakan hanya hal-hal kecil. Sampailah pembicaraan tadi pada sebuah pertanyaan,"Memang di sana bersama siapa?" Saya jawab,"Ada Pak S di ujung kelas sana?" Ngapain malam-malam begini?" "Biasa dia mah paling juga merokok, soalnya kalau di rumah tidak boleh sama istrinya." Akhirnya, ia bilang,"O, begitu ya laki-laki, mungkin semua laki-laki begitu ya? Kalau dilarang sama istrinya malah ngebandel." Saya jawab," Ya, nggak begitu juga, tidak semua laki-laki bersikap seperti itu, tergantung bagaimana pola komunikasi yang dibangun oleh si istri, bagaimana cara dia berbicara, apakah dengan cara yang baik atau tidak."

Memang sih yang saya rasakan dan juga mungkin banyak para laki-laki di luar sana, kalau pasangan bicara ngotot-ngototan, seperti mendikte, bicaranya sambil marah-marah, atau bahkan menganggap kita tidak tahu apa-apa, apapun yang dikatakan pasangan (istri) biasanya hati sulit menerima. Ada rasa ingin menunjukkan power bahwa saya ini laki-laki lho, kepala keluarga lho, saya juga ga bodoh-bodoh amat lho... Dan lho-lho yang lain. Walaupun sebenarnya itu hanya perasaan sesaat dan ego semata. Karena masalahnya bukan di konten yang disampaikan, karena seringkali isi perkataannya memang benar, hanya saja cara penyampaiannya yang kurang baik.

Hal ini menunjukkan bahwa kemasan dari suatu isi itu memang penting. Sebagai contoh, kalau ada minyak sapi tapi kemasannya gambar babi maka sebagian besar orang akan menjadi ragu akan kemurnian isinya. Begitupun dalam cara berkomunikasi, setiap perkataan, sikap, dan perilaku kita harus dikemas dengan sebaik-baiknya. Hati yang baik harus diwujudkan dalam perilaku dan tingkah laku yang baik pula. Isi pembicaraan yang benar juga harus disampaikan dengan tutur kata yang sopan, baik, dan santun. Karena kalau tidak, bisa jadi orang yang mendengar pembicaraan kita alih-alih mendengarkan atau melakukan apa yang kita sampaikan, justru mereka akan antipati dan tidak mau peduli dengan perkataan kita.

Allah SWT menegaskan tentang bagaimana sikap Rasulullah SAW dalam menyampaikan dakwahnya sehingga punya atsar atau pengaruh yang begitu luar biasa di kalangan para penerima dakwah beliau. Dalam surah Ali Imran ayat 159, Allah SWT berfirman : "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa yang menjadi kunci sukses dakwah Nabi SAW adalah sikap dan tutur katanya yang lemah lembut, sikap pemaaf, dan selalu bermusyawarah dan tentu yang utama adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Sikap Rasulullah SAW merupakan sikap yang harus kita ikuti dan kita teladani. Beliau adalah komunikator ulung nan luar biasa. Bisa merangkai setiap katanya dengan baik dan indah dan bisa menempatkan setiap perkataannya sesuai dengan orang yang dihadapinya. Maka, kalau kita ingin agar perkataan kita didengar dan berpengaruh kita harus menata perkataan kita dengan baik dan menyesuaikannya dengan orang yang kita ajak bicara. Jangan sampai kata-kata kita menyakiti, memojokkan, apalagi menghina orang lain. Pastikan mereka mengikuti kita tanpa merasa terpaksa. Walaupun mungkin kata-kata kita menyinggung tapi kalau bahasa kita baik ketersinggungan itu tidak akan jadi masalah. Wallahu a'lam.

Senin, 20 Januari 2014

Malas tapi Sukses

Dalam satu sesi pembelajaran di kelas bersama anak-anak kelas 6, saya sempat bertanya,"Apakah kalian mau jadi orang yang malas tapi sukses?." Hampir semua mereka menjawab "mau" tapi dengan wajah kebingungan. Karena selama ini yang mereka tahu kalau ingin sukses ya harus rajin belajar. Ya, tentu ini tidak salah. Ini masalah sudut pandang semata. Kalau begitu, apa sih yang dimaksud dengan "malas tapi sukses"? Mungkinkah orang-orang yang malas dapat meraih sukses dan berhasil dalam hidupnya?Jawabannya, mungkin dan sangat mungkin. 

Jadi, siapakah orang-orang yang malas tapi bisa sukses? Baiklah, saya kasih tahu hasil renungan saya. Hahaha... 
  • Pertama, orang yang malas bodoh. Orang macam ini akan meraih sukses karena dia sudah membayangkan bagaimana kalau nanti jadi orang bodoh. Dia tidak mau kalau dibodohi orang dan dia tidak ingin kalau karena kebodohannya ia tidak bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Oleh karenanya dia berupaya untuk rajin belajar, banyak bertanya, agar tidak jadi orang bodoh.
  • Kedua, orang yang malas miskin. Miskin adalah suatu keadaan yang tentunya tidak mengenakkan. Siapapun tidak akan mau kalau dirinya menjadi orang miskin. Maka, orang yang sadar akan tidak enaknya kemiskinan sejak awal dia akan malas untuk jadi orang miskin, dan karena kemalasannya untuk miskin ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan upaya yang sungguh-sungguh, menabung, atau berinvestasi.
  • Ketiga, orang yang malas untuk jadi orang hina. Dia akan senantiasa menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam kehinaan. Caranya, ia akan berusaha untuk menjaga sikap (attitude), perkataan, perbuatan, dan akhlaknya agar tidak melakukan hal-hal atau sikap-sikap yang tidak terpuji.
Itulah beberapa sikap malas yang akan membawa kita meraih kesuksesan. Mungkin Anda bisa menambahkan yang lainnya. Intinya, malas untuk melakukan atau mengalami hal-hal negatif itu baik asalkan memaksimalkan upaya untuk melaksanakan yang sebaliknya. Selamat bermalas-malasan!
Wallahu a'lam...

Jumat, 17 Januari 2014

Pentingnya Standar dalam Sebuah Keputusan

Ada pelajaran penting dari satu acara study tour yang saya ikuti di sebuah sekolah. Pada tulisan ini saya akan membicarakan masalah pemilihan guru yang akan ikut mendampingi peserta didik, karena guru hanya sebagian yang diikutkan. Memang terdengar masalah kecil, akan tetapi bagaimana pun hal ini akan berimbas besar kalau tidak dikelola dengan baik. Inilah yang saya dengar desas desusnya saat beberapa hari sebelum berangkat study tour. Banyak yang mempertanyakan, atas dasar apa pemilihan yang dilakukan? Karena ternyata dilihat dari sudut mana pun tidak ada standar yang bisa dipertanggungjawabkan.


Peserta didik yang melaksanakan study tour saat itu adalah kelas bawah (kelas 1,2, dan 3), dengan jumlah peserta kurang lebih 250 anak. Sementara kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) akan melaksanakan study tour sekitar seminggu kemudian. Idealnya, kalau memang komitmennya guru akan diikutkan semua, maka harusnya ikut semua. Tapi, kalau memang tidak memungkinkan lebih baik guru dibagi dua, yang ikut bersama kelas bawah tidak ikut dengan kelas atas, begitupun sebaliknya. 

Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba muncul nama guru-guru yang diberi kesempatan ikut bersama ke tempat wisata tersebut. Yang muncul 23 guru dari 30 guru yang ada. Itu artinya, ada sekitar 7 guru yang tidak ikut, berarti pada stady tour yang kedua ada guru yang ikut double, dua kali. Ini menurut saya tidak adil. Sementara, ketika diperhatikan kembali ternyata guru-guru yang ikut ada juga yang ngajar di kelas atas dan justru ada yang ngajar di kelas bawah tapi tidak diikutkan. Begitulah kenyataannya dan itu pula yang memunculkan pertanyaan besar dari teman-teman.

Menurut saya, seharusnya pimpinan punya kebijakan yang bisa dipahami. Toh, membuat standarnya kan cukup mudah. Paling tidak, ada dua alternatif yang bisa meredam semua gejolak dan prasangka buruk.
  • Yang pertama, buat standar yang jelas, bahwa guru yang akan ikut mendampingi anak-anak kelas bawah adalah wali kelas dan guru bidang study kelas bawah. Berarti untuk wali kelas dan guru kelas atas akan diikutkan nanti ketika stdy tour kelas atas. Jadi, tidak ada yang ikut 2 kali kecuali koordinator dan pimpinan, asal tetap tahu apa yang harus dikerjakannya selama di jalan dan ketika sampai di sana, jangan cuma santai dan tidak ngapa-ngapain.
  • Yang kedua, kalaupun tidak dibuat standar maka ikutkanlah guru semuanya. Jangan berpikir kalau nanti tidak ada sisa anggaran yang bisa dibagi, toh semua bisa ikut merasakan jalan-jalan bersama anak-anak saja sudah bagus.
Yang terjadi kemarin dan harus dievaluasi dan dikoreksi adalah:
  1. Pemilihan guru pendamping yang hanya didasarkan pada naluri dan perasaan semata.
  2. Pemilihan guru pendamping karena alasan kedekatan atau pertemanan atau kasarnya berdasarkan geng-nya. 
Itulah beberapa hal yang sedikit janggal dan harus dibenahi berikut dengan saran yang sudah saya kemukakan. Semoga apa yang saya sampaikan ini menjadi sedikit pelajaran untuk menghindari adanya kesalahpahaman, gap, ataupun ketidakharmonisan dan buruk sangka. Insya Allah.
Wallahu a'lam.

Kamis, 16 Januari 2014

Mungkin Dia Lebih Baik

"Lebih baik mantan preman daripada mantan ustadz"

Suara adzan Subuh tadi pagi benar-benar membuatku tersentak. Suara yang datar sama sekali tidak ada lagunya dengan beberapa kesalahan yang lumayan fatal membuatku membuka telinga lebar-lebar sambil sedikit malas-malasan di tempat tidur. Saya sempat menggerutu dalam hati, kenapa orang yang tidak bisa berani-beraninya mengumandangkan adzan? Padahal adzan hakikatnya adalah panggilan Allah? Berbagai perasaan muncul yang bermuara pada sikap sok bisa dan rasa suudzdzon. 

Namun, tiba-tiba saya tersadar dan mulai berpikir lebih jernih. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Siapa yang lebih baik, dia yang bangun lebih awal dan menunggu datangnya shalat Subuh walaupun harus adzan dengan suara belepotan? Ataukah saya yang justru mrungkel bermalas-malasan di tempat tidur dan beberapa waktu tidak ikut shalat berjamaah Subuh? Pertanyaan ini membuat saya bangkit dan berteima kasih kepada orang yang adzan tadi. Ia sungguh sudah menyadarkan saya yang selama ini mempunyai kualitas ibadah yang justru menurun.

Tahukah Sahabat, siapakah orang yang adzan tadi? Dia adalah orang yang selama ini dikenal di daerah kami sebagai -maaf- "preman". Dia cukup ditakuti oleh orang-orang sekitar kami. Tapi, sungguh luar biasa beberapa minggu belakangan ini ia rajin berjamaah, terutama Maghrib, Isya, dan Subuh. Mungkin inilah yang disebut dengan hidayah. Saya tidak pernah membayangkan dia akan jadi se"'alim" sekarang. Saya ikut bersyukur menyaksikan perubahan ini. Bahkan, saya menjadi tersentuh dan teringatkan betapa di saat saya yang notabene sedikit banyak sempat belajar agama justru kualitas ibadah terus menurun, sedangkan orang-orang seperti dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk mendekat kepada Allah. Subhanallah...

Alhamdulillah, ia adalah orang yang sudah membuat separuh kesadaranku untuk menjadi lebih baik tiba-tiba muncul kembali. Saya tidak lagi mempermasalahakan apakah adzan dia salah atau benar, yang lebih penting adalah upayanya untuk lebih baik yang energinya benar-benar saya rasakan. Tentu, hal ini bukan berarti mengabaikan kesalahan-kesalahan yang ada. Kesalahan pada saat yang tepat memang harus ada yang membetulkan, hanya saja jangan sampai teguran atas kesalahannya justru menjadikan dia mundur dan tidak kerasan lagi untuk lebih dekat dengan masjid dan belajar Islam lebih baik. Memang, lebih baik mantan preman daripada mantan ustadz. Wallahu a'lam.

Selasa, 14 Januari 2014

Resign... Oh, Resign...

Adanya guru yang resign (mengundurkan diri) dalam suatu lembaga pendidikan adalah hal yang biasa dan wajar. Sebagaimana juga bisa terjadi di lembaga-lembaga yang lain. Akan tetapi kedengarannya menjadi tidak wajar kalau dalam satu periode kepemimpinan lembaga pendidikan itu guru yang resign jumlahnya bisa lebih dari 6 atau 7 orang. Ini jadi pertanyaan besar. ADA APA DENGAN SEKOLAH TERSEBUT? Apakah karena gaji yang kecil? Kebijakan yang tidak populis? Kepala sekolah yang tidak menyenangkan? Suasana kerja yang tidak nyaman? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. 

Beberapa guru yang mengundurkan diri barangkali punya alasan yang berbeda-beda. Ada yang mendapat tawaran di tempat lain yang lebih menjanjikan. Ada yang disebabkan karena ikut suami (kalau ia perempuan). Ada yang pindah karena suasana kerja yang tidak nyaman. Ada yang disebabkan konflik antar sesama guru. Ada juga yang pindah karena diangkat jadi PNS dan ditempatkan di sekolah lain atau instansi lain. Bahkan ada juga yang keluar karena dipecat.

Sejatinya, resign, pindah tempat kerja, keluar kerja, atau apapun itu namanya, adalah hak semua orang. Setiap guru yang mengajar di suatu sekolah punya hak untuk menentukan pilihannya masing-masing dan memilih tempat kerjanya sendiri. Akan tetapi tentu hal ini perlu ada mekanismenya, karena kalau hal ini tidak diatur pasti eksesnya tidak baik bagi suatu sekolah. Maka, karena pertimbangan itu, beberapa sekolah menetapkan kebijakannya masing-masing. Di antara kebijakan tersebut adalah adanya sekolah yang menetapkan sistem kontrak per tahun. Artinya, setiap awal tahun masing-masing guru menandatangani kontrak sebagai guru selama setahun ke depan. Nah, setelah masa kontraknya habis sekolah tersebut bisa memperpanjang kontrak tersebut bagi guru yang masih dibutuhkan dan masih mau mengajar di sana. Dan bagi yang sudah habis masa kontraknya tapi ia tidak diperlukan lagi di sekolah itu atau memang guru tersebut mau pindah maka kontraknya tidak diperpanjang.

Ada pula sekolah yang tidak menerapkan sistem kontrak ini. Akan tetapi tentu harus ada ketentuan dari sekolah tersebut atau yayasan yang menaunginya agar setiap guru yang mau resign jangan sampai mendadak atau resign di tengah jalan atau di tengah tahun ajaran, karena yang akan jadi korban nanti anak didiknya. Oleh karena itu, seorang pimpinan di sebuah sekolah hendaknya memahami hal ini, agar tidak mudah untuk melepaskan seorang guru untuk mengundurkan diri dengan alasan hak asasi. 

Seorang pemimpin yang bijak tentu akan melihatnya secara menyeluruh. Ketika ada guru yang mau resign, ia akan melakukan evaluasi. Ia akan mempertanyakan dulu, apa faktor pendorong guru tersebut melakukan resign? Apakah murni dari keinginannya tanpa ada hubungan dengan kebijakannya selama ini? Ataukah justru ia berniat resign karena ada kebijakan si pimpinan yang tidak menyentuh rasa keadilannya atau kenyamanan hatinya. Jadi, jangan serta merta ia melihat bahwa niat anak buahnya itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, atau sekedar bilang bahwa itu haknya dia, atau lebih buruk lagi kalau pimpinan berpikir,"biarkan saja dia keluar/mengundurkan diri, toh masih banyak penggantinya yang ngantri." Ini tentu merupakan preseden buruk sebuah lembaga pendidikan. 

Harus diingat, bongkar pasang guru akan membawa efek yang tidak baik bagi peserta didik. Kenapa? Karena masalahnya tidak simpel. Peserta didik perlu penyesuaian diri dengan guru yang baru, dan ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bagaimana jadinya kalau beberapa bulan tiba-tiba harus ganti guru. Baru penyesuaian sudah ganti guru lagi. Padahal setiap guru itu punya cara mengajar, pemikiran, dan kebijakan yang berbeda. Maka, sekali lagi anak-anaklah nantinya yang bingung dan jadi korban. Bagaimana mungkin kita berharap kualitas pendidikan yang bagus dengan cara seperti ini.

Jadi, apa yang harus dilakukan seorang pimpinan ketika ada anak buahnya (baca: guru) yang akan mengundurkan diri apalagi dalam jumlah yang banyak? Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pimpinan. Pertama, introspeksi diri, apakah yang kita lakukan sebagai pimpinan sudah memenuhi rasa keadilan anak buah kita? Kalau ya, maka kita harus merubah sikap dan kebijakan kita dengan lebih adil. Kedua, lakukan pengamatan, apakah di kalangan anak buah kita saat ini banyak terjadi gap atau ketidak harmonisan? Kalau ya, carai apa penyebabnya, setelah itu bagaimana cara penyelesaiannya? Ketiga, lihat kembali kebijakan penggajian. Kalau alasan mereka resign karena gaji yang kurang, apakah kita sudah berupaya agar penggajian lebih manusiawi? Selain itu, kita juga perlu mengkaji ulang, apakah alasan gaji itu benar-benar alasan utamanya? Keempat, lakukan pendekatan secara personal, buat dia nyaman dan merasa diperhatikan.

Kenapa hal itu harus kita lakukan? Karena ternyata banyak di antara mereka yang mengundurkan diri dari sekolah kita bukan semata-mata karena masalah uang atau gaji yang kurang, justru yang menjadikan mereka punya niat seperti itu karena mereka tidak merasakan kenyamanan mengajar di sana. Jadi, kunci utama seorang guru bisa bertahan di sebuah sekolah adalah rasa nyaman, kekeluargaan, kedekatan, gotong royong, dan perhatian. Walaupun tidak dipungikiri kalau faktor gaji pun menjadi salah satu alasan, tapi sekali lagi itu bukanlah alasan utama. BUATLAH GURU-GURU NYAMAN, MAKA SEKOLAH AKAN MAJU DAN SOLID. 

Kalaupun seorang guru sudah tidak bisa dipertahankan lagi, baik karena kinerjanya yang buruk atau karena memang keinginannya untuk mengundurkan diri sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi, maka, yang harus dilakukan oleh pimpinan adalah jangan sampai membuat sakit hati mereka di akhir pengabdiannya. Berikan mereka kesempatan untuk bicara, memberikan kesan dan pesan, serta permohonan maaf. Ini sangat penting dilakukan agar kesan terakhir yang baik itu akan menjadi perisai diri bagi dia agar jangan menjelek-jelekkan sekolah kita ketika dia sudah di luar atau di tempat kerja yang lain. Karena kalau mereka keluar sekolah kita dengan perasaan sakit hati atau tidak dihargai maka ia akan mengumbar kejelekan dan kekurangan sekolah kita kepada orang banyak. Akibatnya, sekolah kita akan tercoreng dan bisa jadi akan mengurangi simpati dan minat orang-orang di luar sana untuk menyekolahkan anaknya di sekolah kita.

Wallahu a'lam.

Senin, 13 Januari 2014

Ya Rasulallah... Aku Merindukanmu...


Ya Allah perkenankanlah hamba yang penuh dosa ini memeluk kekasih-Mu Muhammad SAW di Surga-Mu nanti. Aamiin...

Ya Nabii Salam 'Alaika

Yaa Nabi salaam alaika
yaa Rasul salaam alaika
yaa Habiib salam alaika

sholawattullah alaika
Asyroqol badru alainaa
fakhtafat minhul buduuru
mitsla husnik maa ro-ainaa

qoththu yaa wajhas suruuri
Yaa Nabi salaam alaika
yaa Rasul salaam alaika
yaa Habiib salam alaika
Anta syamsun anta badrun
Anta nuurun fauqo nuuri

Anta iksiiru wa ghooli
Anta misbaahus-shuduuri
Yaa habiibi yaa Muhammad
yaa aruusal khoofiqoini

yaa muayyad yaa mumajjad
yaa imaamal qiblataini


Rindu Kami Padamu

Rindu kami padamu ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Minggu, 12 Januari 2014

Sekolah itu Gak Perlu, Kalau.... (2)

#2. Sekolah itu Tidak Perlu, Kalau Tidak Menjadikan Anak Lebih Baik

Dinas pendidikan maupun pihak sekolah dan pengelola sekolah selalu mendengung-dengungkan sikap profesional baik dalam posisi sebagai guru maupun tenaga lainnya yang berada di lingkup sekolah. Guru memang sudah menjadi sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Hal ini ditandai dengan adanya perhatian yang begitu besar terhadap profesi ini. Guru mempunyai kode etik yang harus ditaati, sebagaimana juga profesi lainnya, profesi dokter misalnya. Menurut saya, adanya kode etik ini seharusnya guru punya tanggung jawab yang lebih besar terhadap profesinya. Kalau dokter saja sebagai sebuah profesi bisa dituntut kalau melakukan mal praktek, maka semestinya hal ini juga berlaku bagi guru. Guru juga bisa melakukan mal praktek. Lucu memang kedengarannya, tapi coba kita perhatikan lebih jeli! Bukankah guru dibayar untuk menangani anak-anak didiknya agar mereka bisa menjadi lebih baik? Seandainya seorang guru tidak bisa menjadikan anak didiknya menjadi lebih baik, bahkan justru menjadi lebih buruk daripada saat mereka masuk berarti guru itu sudah melakukan mal praktek bukan? Hehehe... Entahlah.

Idealnya sebuah sekolah harus mempunyai alat ukur keberhasilannya dalam pembelajaran. Memang kalau semua guru di sebuah sekolah mematuhi semua koridor yang sudah ditetapkan, mestinya sedikit banyak kita bisa mengukur keberhasilan itu. Akan tetapi, diakui atau tidak, saya sering menyaksikan para guru banyak yang tidak mematuhi itu dengan alasan ribet, repot. Yang paling kasat mata adalah adanya nilai-nilai raport yang lebih cenderung hanya "merekam" kemampuan kognitif anak semata, sementara sisi afektif dan psikomotornya jarang menjadi pertimbangan. Sehingga yang terjadi seringkali yang menjadi ukuran seorang anak itu cerdas atau tidak adalah nilai-nilai kognitif tersebut. Padahal, itu baru sebagian dari kecerdasan itu sendiri, ini baru dilihat dari IQ (Intellegence Quotient)-nya saja. 

Kalau kita melihat fakta itu, pada akhirnya sekolah hanya akan menjadi alat justifikasi bahwa si A pinter sementara si B bodoh, si C kurang pinter, dan seterusnya. Apa yang terjadi dengan anak-anak melihat kenyataan semacam ini? Tentu akan terjadi demotivasi pada sebagian besar anak. Apalagi kalau cap bodoh atau pinter itu diperkuat juga oleh lontaran kata-kata yang disampaikan oleh gurunya. Maka, inilah gambaran sekolah yang buruk. Sekolah seharusnya memberikan dorongan, motivasi, inspirasi, dan ide-ide cemerlang agar para peserta didik terpacu untuk lebih baik. Yakinkan kepada mereka bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang terlahir tanpa potensi kecerdasan. Semua anak hadir ke dunia ini dengan membawa potensi masing-masing yang bisa dikembangkan menjadi luar biasa. 

Dalam teori Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), Howard Gardner mengatakan bahwa ada 8 kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Bisa jadi sebagian orang memiliki jenis kecerdasan yang tidak dimiliki oleh sebagian yang lain. Setiap orang dilahirkan dengan potensi satu kecerdasan yang lebih menonjol dibanding yang lain. Sehingga dengan adanya kecerdasan majemuk tersebut, maka tidak ada orang di dunia ini yang bisa dikatakan sebagai orang bodoh. Adapun 8 kecerdasan tersebut adalah kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan spiritual. 


Sebuah sekolah yang hanya mengandalkan nilai kognitif atau inteligensi sebagai ukuran dengan mengabaikan perubahan sikap atau akhlak menjadi lebih baik bisa dikatakan sebagai sekolah yang gagal. Begitu juga kalau sekolah tidak bisa menjadikan anak lebih terampil bisa juga dikatakan gagal. Kenapa? Karena nilai yang ada di raport biasanya tidak berbanding lurus dengan pengamalan, keterampilan, moral, dan akhlak anak. Maka, kalau ada anak yang nilainya bagus di raport tapi sikapnya tidak baik, akhlaknya rusak, dia belum bisa dikatakan berhasil, sekolah belum bisa dikatakan sukses. Kita harus menyadari betul, bahwa kehidupan tidak akan bisa dihadapi dengan nilai bagus. Rintangan, cobaan, dan tantangan hidup tidak serta merta mampu dihadapi oleh mereka yang raportnya mempunyai nilai yang aduhai. Dari sini, jelaslah bahwa tugas sekolah adalah menjadikan anak lebih cerdas otaknya, lebih bagus akhlaknya, dan lebih terampil tangannya. Sekolah harus mampu memberikan pembelajaran yang bermakna (meaningfull) dan bernilai guna (usefull), sehingga apa yang dipelajarinya benar-benar bermanfaat. 

Selain itu sekolah juga harus mampu menghargai perbedaan kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didiknya dan mampu mengembangkan sesuai dengan kecerdasan masing-masing. Dengan demikian anak akan menjadi lebih percaya diri dengan kecerdasan yang dimilikinya. Jangan ada pengkerdilan dari pihak sekolah terhadap kemampuan yang berbeda dari anak-anak didiknya. Kalau hal ini masih terjadi lebih baik sekolahnya tutup saja. Tidak perlu ada sekolah kalau hanya akan memperburuk keadaan anak didiknya. Tidak perlu ada sebuah sekolah kalau hanya akan memberangus kreatifitas siswa karena ada anggapan-anggapan yang salah dari pihak sekolah. Andai itu terjadi lebih baik pendidikan dikembalikan kepada kedua orang tuanya. Dengan syarat orang tua yang tahu tingkat perkembangan anak, apa yang harus disampaikan kepada anak, dan bagaimana cara terbaik mendidik anak. Kalau saja setiap orang tua punya kemampuan itu dan punya rasa tanggung jawab yang besar maka sebenarnya sekolah itu tidak perlu. 

Oleh karena itu, kalau sekolah mau tetap ada dan diperlukan, kita harus memperhatikan betul track record masing-masing anak sehingga perkembangannya bisa diketahui dan kita bisa mengatakan suatu sekolah itu berhasil atau tidak. Sekolah harus bisa menunjukkan perkembangan yang signifikan dari waktu ke waktu. 
Wallahu a'lam...

Bersambung ke Bag. 3...

Sabtu, 11 Januari 2014

Sekolah itu Gak Perlu, Kalau.... (1)

Dalam beberapa kesempatan, dalam perenungan panjang, saya seringkali bertanya-tanya, masih perlukah sekolah bagi anak-anak kita? Mungkin ini hanyalah pikiran-pikiran "nakal" saya saja. Tapi, bisa jadi ini juga merupakan kekecewaan saya terhadap kualitas sekolah yang pernah saya temui. Boleh jadi juga ini merupakan bagian dari ketidakpuasan saya terhadap diri saya sendiri sebagai seorang guru. Banyak kenyataan yang kemudian menjadikan saya menilai bahwa memang banyak sekolah seperti yang ada sekarang itu tidak perlu ada. Salah satunya kita seringkali menjadikan sekolah hanya alat legitimasi bagi seseorang agar diakui dalam masyarakat dalam bentuk selembar ijazah dan sederet nilai-nilai yang entah diberikan secara jujur atau tidak. 

Mari kita lihat lebih jauh dengan lebih jernih tentang fakta-fakta tentang keberadaan sekolah saat ini. Dengan melihat fakta-fakta ini harapan saya kita semua bisa kembali introspeksi diri, apa sebenarnya yang salah dalam penyelenggaraan sekolah kita? Semoga kita bisa menjadikan sekolah-sekolah kita menjadi penting adanya dan mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat, karena ia bisa menjadi solusi terbaik bagi pendidikan anak-anak mereka. Berikut ini adalah beberapa fakta yang saya lihat dari kacamata "awam" saya.

#1. Sekolah itu tidak perlu, kalau bimbel/les lebih dipercaya dibandingkan sekolah formal yang ada. 

Saat ini, lembaga-lembaga bimbel dan les privat tumbuh bak jamur di musim hujan. Belum lagi les yang dilakukan secara pribadi baik yang datang ke rumah ataupun yang didatangi. Lembaga-lembaga ini memang sangat menjanjikan bagi yang menyelenggarakannya. Betapa tidak, bisnis ini mampu meraup penghasilan yang tidak sedikit. Bahkan, tidak jarang ini dijadikan sebagai lahan penghasilan utama bagi sebagian saudara-saudara kita. 

Sampai di sini memang tidak ada yang salah. Setiap orang punya hak untuk membangun usaha dan mendapatkan penghasilan. Setiap orang -terutama orang tua- juga punya hak memilih tempat belajar agar anak-anaknya menjadi cerdas dan terampil. Masalahnya adalah, ketika orang tua dan anak-anaknya lebih percaya pada lembaga bimbel atau les privat dibanding kepada sekolah. Sebagai indikasi kita bisa menyaksikan ketika sekolah menaikkan sedikit saja uang SPP anak-anaknya mereka protes luar biasa. Suruh membayar SPP tiga ratus ribu saja mereka keberatan. Tapi, untuk bimbel dan privat mereka berani membayar jutaan tiap bulannya. 

Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata salah satu alasannya adalah karena kualitas pengajaran di lembaga bimbingan belajar dan les privat terbukti lebih bagus dibandingkan dengan cara pengajaran di sekolah. Anak-anak lebih cepat memahami pelajaran kalau disampaikan di tempat bimbel. Kalau begitu, pertanyaan yang muncul, kalau memang bimbel lebih baik untuk belajar anak-anak kita, apakah keberadaan sekolah masih diperlukan? Kalau acuannya sekolah itu untuk menambah ilmu pengetahuan anak, maka keberadaan sekolah itu mestinya tidak diperlukan lagi. Untuk apa sekolah kalau materi yang ada di sekolah bisa anak-anak dapatkan di tempat bimbel atau les. Jelas sekolah ga  perlu. 

Tapi, pada kenyataannya memang para orang tua masih membutuhkan sekolah bagi anak-anaknya. Hanya saja kebutuhan orang tua kepada sekolah bukan lagi karena sekolah bisa menjadikan anak jadi lebih pintar, kebutuhan itu tidak lebih hanya untuk bahan legitimasi semata. Karena dengan sekolah anak-anak bisa mendapatkan ijazah, dan dengan ijazah anak-anak bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, begitu seterusnya. Dan akhirnya ketika sudah bisa mendapatkan ijazah di tempat pendidikan yang lebih tinggi pada saatnya nanti mereka bisa lebih mudah melamar pekerjaan yang bergengsi dan bisa mendapatkan fulus yang lumayan. Jadi, UUD, ujung-ujungnya duit. 

Karena itu, bagi kita yang bergelut di dunia pendidikan, mestinya hal ini kita sadari bersama, seharusnya sekolah bisa memberika solusi yang menyeluruh untuk memberikan arti untuk bekal anak-anak kita di kemudian hari. Anak yang asalnya tidak bisa menjadi bisa. Yang asalnya tidak paham menjadi paham. Yang asalnya bodoh menjadi pintar. Yang asalnya tidak terampil menjadi terampil. Yang aslnya "buta" menjadi "melek". Dan seterusnya. Kenyataan ini harus menjadi tantangan bagi kita untuk membuktikan bahwa sekolah kita memang berkualitas dan lebih dari cukup untuk menjadikan anak-anak kita menjadi lebih baik. Wallahu a'lam... 

Bersambung ke Bag. 2...

Jumat, 10 Januari 2014

Jangan Banyak Alasan!

Alasan. Sebuah kata yang bisa berkonotasi positif bisa juga berkonotasi negatif. Alasan biasanya dibuat untuk menguatkan suatu pendapat atau kebijakan yang dibuat oleh seorang pemimpin dengan harapan apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik tanpa protes atau hujatan. 

Alasan dapat dibagi menjadi 2 bagian. Ada alasan yang masuk akal karena disampaikan dengan jujur dan tidak dibuat-buat, ada pula alasan yang memang dibuat hanya untuk menyembunyikan sebuah kebohongan. Alasan yang jujur dapat berfungsi untuk menguatkan suatu pendapat agar orang lebih yakin terhadap gagasan atau apa yang kita lakukan. Misalnya, ketika pemerintah menerapkan kebijakan kenaikan harga BBM, kalau alasan yang diberikan logis dan tidak dibuat-buat maka rakyat akan menerimanya dengan rela. 

Sebaliknya, ketika alasan dibuat untuk menutupi kebohongan maka ia akan terasa janggal, tidak logis dan tidak masuk akal. Orang yang membuat-buat alasan biasanya ia akan terus "berkreasi" membuat alasan-alasan baru untuk menutupi alasan bohongnya yang pertama dan seterusnya. Dan kita yang mendengar sebenarnya bisa dengan sangat mudah menelusuri kebohongan itu kalau kita mau lebih jeli melihatnya. Karena alasannya biasanya cenderung maksa dan tidak logis. 

Dalam kehidupan sehari-hari juga kita sering menemukan orang-orang yang berpikiran dangkal -atau mungkin bahkan kita yang melakukannya- membuat banyak alasan. Alasan pendidikan rendah, muka gak cakep, kemiskinan, keturunan, dan lain sebagainya seringkali kita jadikan alasan kita tidak bisa meraih sukses seperti yang orang lain dapatkan. Padahal, kalau kita mau buka mata buka telinga kita akan menemukan beribu-ribu bahkan mungkin berjuta-juta orang yang sukses padahal berasal dari golongan yang "tidak beruntung". Maka. stolah beralasan yang akan menghalangi kita mengeksplore sisi terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena hal itu bisa menjadi indikasi apakah kita termasuk orang bersyukur atau tidak. Bersyukur karena kita menggunakan potensi besar yang Allah anugerahkan kepada kita, atau malah kita akan dicap kufur karena kita "malas" menampilkan potensi terbaik yang kita miliki karena kita terlalu "pintar" membuat alasan. Na'udzubillah...

Kamis, 09 Januari 2014

Menentukan Prioritas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prioritas mempunyai arti yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Misalnya, mana yang harus didahulukan antara kerja dan shalat, antara anak dan panggilan Allah, antara wajib dan sunnah, dan seterusnya. Pengetahuan akan prioritas sangat menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam pekerjaan serta sukses tidaknya seseorang dalam menjalani kehidupan ini.

Kenapa pengetahuan tentang prioritas sangat diperlukan? Karena tanpa pengetahuan dan kejelian dalam menentukan prioritas biasanya seseorang terjebak pada hal-hal yang tidak penting dan tidak punya nilai apa-apa. Sepertinya dia sibuk sekali akan tetapi tidak ada hasil apapun yang bisa dilihat dan dirasakan. Inilah kenapa pengetahuan tentang prioritas ini begitu penting. 

Ada beberapa kejadian penting di sebuah lembaga yang membuat saya sering tertawa geli. Hal ini berkaitan dengan ketidakjelian seorang pemimpin dalam menentukan prioritas, mana yang harus didahulukan mana yang bisa dibelakangkan. Mana yang harus segera dilaksanakan dan mana yang masih bisa ditunda untuk beberapa saat atau beberapa waktu. Suatu ketika di hari Jum'at siang lembaga itu seperti biasa mengadakan rapat bersama para karyawannya. Dalam rapat itu banyak permasalahan yang bergulir, di antaranya tentang kipas angin yang rusak di beberapa ruangan. Seorang peserta rapat bertanya kepada pimpinan lembaga tersebut,"Ibu pimpinan, kami mohon kipas yang rusak di beberapa ruang agar di perbaiki, karena kalau tidak di ruang atas kami merasa sangat panas dan itu kurang kondusif buat belajar!" Besoknya, apa yang terjadi? Apakah kipas diperbaiki atau tidak? Ternyata yang dibeli adalah keset. Lucu kan, "minta kipas dikasih keset". Jaka Sembung beli combro, ga nyambung bro... hehe...

Ada lagi sebuah cerita dimana di lembaga ini sudah beberapa bulan terakhir dispensernya rusak. Kami tidak bisa mendapatkan untuk hanya sekedar ngopi. Pada suatu rapat, salah seorang karyawan menyampaikan tentang kondisi dispenser dan kapan mau dibelikan yang baru. Ternyata, jawabannya tidak memuaskan, sehingga terkesan bahwa itu sebagai barang yang mahal. Di sisi lain, diketahui dari seorang teman kalau lembaga ini sudah membeli kamera dengan harga lebih kurang 6 juta. Di sinilah ironisnya, seolah pimpinan tidak bisa memilah mana barang yang harus dibeli terlebih dahulu dan mana barang yang bisa ditunda pembeliannya. Di sini jelas, dispenser merupakan kebutuhan sehari-hari dan bahkan setiap saat, dengan harga yang relatif murah tapi bilang tidak ada budget/uang, tapi di sisi lain, kamera yang harganya relatif mahal dan digunakan hanya di momen-momen tertentu saja justru malah yang diprioritaskan.

Dari dua kejadian di atas, rasanya kita sudah bisa melihat mana yang lebih penting dan mana yang biasa-biasa saja. Efek dari salah menentukan prioritas ini ternyata lumayan besar. Karena ternyata hal ini membuat antipati para karyawan atau pegawai yang tidak puas dengan keputusan pimpinan. Bagaimana untuk mengetahui prioritas dari sekian banyak kepentingan? Mudah saja sebenarnya, cukup dengan membuat list kebutuhan lembaga, kemudian urutkan kebutuhan itu dari mulai yang sangat penting, penting, biasa, tidak penting, sampai kepada hal yang sangat tidak penting bahkan membahayakan, merusak atau bahkan akan kontra produktif atau sia-sia. 

Kalau kita mengambil analogi hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka sebuah kebutuhan bisa diurutkan mulai dari yang wajib, sunnah, mubah, makruh, sampai haram. Lakukan yang wajib dan sunnah, sesekali yang mubah, dan tinggalkan yang makruh apalagi haram. Penentuan prioritas ini dalam melakukan pekerjaan sangat penting agar pekerjaan yang kita lakukan betul-betul kita lakukan sesuai dengan manfaatnya, bukan ngasal. Hindari perbuatan yang sia-sia apalagi kalau dibenci atau dilarang oleh agama. Sehingga pekerjaan kita akan efektif dan tidak membuang-buang sumber daya yang ada. Wallahu a'lam.

Senin, 06 Januari 2014

Manajemen Cemburu

A. Definisi Cemburu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cemburu artinya keirihatian, kesirikan, kecurigaan, kekurangpercayaan. Menurut psikolog Ratih Ibrahim cemburu adalah bagian dari rasa, perasaan, yang merupakan bagian dari emosi negatif pada manusia. Cemburu muncul seiring dengan rasa takut akan kehilangan apa yang sudah dimiliki. Cemburu biasa terjadi pada hubungan relasional antara kekasih, suami istri, saudara atau teman terhadap yang lain. 

B. Mengelola Rasa Cemburu

Rasa cemburu bisa jadi "bumbu" dalam pernikahan yang bisa lebih merekatkan hubungan cinta. Ia bisa menjadi bukti cinta. Akan tetapi, kalau rasa cemburu itu muncul secara berlebihan dan dalam intensitas yang sering bisa jadi justru akan merusak suatu hubungan. Oleh karena itu, rasa cemburu harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Berikut ini beberapa tips untuk mengelola cemburu:
  1. Selalu berpikir positif ; Jagalah selalu pikiran kita agar tetap husnudzdzan. Kalau kita sudah melakukan yang terbaik untuk pasangan kita, jangan biarkan pikiran negatif menghantui kita. Karena pikiran itu akan membuat kita selalu takut dan khawatir, pada akhirnya justru hubungan akan semakin tidak nyaman. Serahkan saja semua penjagaannya kepada Allah SWT, karena Dialah Sang Pengelola hati manusia.
  2. Sibukkan diri dengan kegiatan positif ; Dalam kondisi "menganggur" biasanya pikiran kita akan membayangkan yang tidak tidak. Maka dengan menyibukkan diri tentu kita akan mengurangi kemungkinan berpikir yang negatif.
  3. Bergaul dengan orang-orang yang baik ; Orang-orang di sekitar kita akan sangat menentukan sikap yang kita ambil, karena mereka punya pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan. Bergaul dengan orang baik sangat memungkinkan kita lebih berpikir jernih dan lebih baik. 
  4. Menjaga komunikasi ; Kecemburuan yang berlebihan biasanya muncul dari asumsi yang berlebihan dan kran komunikasi yang tersumbat. Oleh karenanya, komunikasi yang baik meniscayakan kita tidak terbelenggu di alam prasangka. Komunikasikan duduk persoalannya dengan elegan sehingga masing-masing pihak bisa saling memahami.
  5. Kenali sifat pasangan ; Banyak di antara kita yang sudah begitu lama bersama pasangan tapi kita belum kenal betul siapa pasangan kita, bagaimana sifat yang sesungguhnya. Kenalilah sifat pasangan kita agar kita bisa lebih tenang saat melepas dia kerja atau keluar rumah. Ketahui apa kesukaan dan ketidaksukaan pasangan kita. Ungkapkan perasaan cemburu kita dengan  bahasa yang dapat diterima oleh pasangan kita. Sesuaikan bahasa kita dengan karakter pasangan kita agar semuanya berjalan baik-baik saja.
  6. Jangan panik ; Kuasai keadaan saat kita dilanda rasa cemburu. Tarik nafas lebih dalam untuk menjaga agar kita tidak meluapkan rasa marah kita. Pikirkan semua dengan jernih. Diskusikan duduk persoalannya dengan kepala dingin.
  7. Ingat terus kebaikan-kebaikan pasangan dan segera lupakan dan maafkan kesalahan-kesalahannya ; Hal ini adalah cara jitu untuk meredam kecemburuan kita. Kita seringkali cemburu dengan hal-hal kecil yang tidak sebanding dengan kebaikan yang sudah diberikan atau dilakukannya kepada kita.
  8. Bersukacitalah ; Nikmati kebersamaan kita dengan pasangan dengan sepenuh hati. Pupuk terus perasaan cinta dan kasih sayang kita baik dengan kata-kata manis maupun dengan sikap-sikap yang menyenangkan pasangan kita. 
Semoga beberapa tips tersebut bisa menjadi sedikit pengingat agar kita bisa mengelola rasa cemburu dengan baik dan elegan. Sehingga rasa cinta dan kasih sayang kita akan tetap terjaga bahkan terus membesar. Insya Allah.

Jumat, 03 Januari 2014

Resep Ayam Bekakak



 
Bahan:
  •    3 sdm minyak sayur
  •   1 batang serai, memarkan
  •   3 lembar daun jeruk purut
  •   1 ekor ayam buras, buang cakarnya, cuci
  •   1 liter santan encer
  •   500 ml santan kental
  •   1 sdm air asam Jawa

Haluskan:
  •   6 buah cabai merah besar
  •   10 butir bawang merah
  •   3 siung bawang putih
  •   4 butir kemiri
  •   4 cm kunyit
  •   2 sdt ketumbar
  •   2 cm jahe
  •   1 cm lengkuas
  •   1 sdt gula pasir
  •   2 sdt garam

Cara membuat:
  1. Biarkan ayam utuh, semat kepalanya dengan lidi agar bisa tegak saat matang.
  2. Atau belah membujur dada ayam hingga terbuka. Lipat sayap ke arah belakang dan tekan agar terbuka, jika perlu semat dengan lidi.
  3.  Tumis bumbu halus bersama serai, dan daun jeruk hingga harum.
  4. Tuangi santan encer, didihkan.
  5. Masukkan ayam utuh, masak hingga santan susut sebagian.
  6. Tuangi santan kental, masak hingga seluruhnya matang dan bumbu mengering.
  7. Angkat. Tuangi sisa bumbu. Sajikan.