Selasa, 06 Januari 2015

Menjadi Wali Allah

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus : 62-63).

Mereka yang sudah sampai pada tingkat kewalian hidupnya tidak akan didera ketakutan/kekhawatiran dan kesedihan. Alangkah indahnya hidup seperti ini. Bagaimana halnya dengan kita brur and sis? Seringkali hidup kita hanyalah rangkaian dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran yang lain, dari satu kesedihan menuju kesedihan yang lain. Seolah hidup kita tidak ada celah untuk kebahagiaan. 

Kadang kita khawatir kalau esok hari kita kekurangan. Kadang juga khawatir kalau kita tidak bisa makan, khawatir tidak bisa beli pakaian baru, khawatir gaji tidak mencukupi, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lain. Belum lagi kita gampang sekali sedih karena hal-hal yang bersifat duniawi. Sedih karena tidak bisa liburan ke tempat-tempat yang jauh seperti orang lain. Sedih karena belum bisa beli mobil. Sedih karena sampai saat ini belum bisa beli rumah, dan lain sebagainya.

Bagi orang-orang yang sudah sampai pada tahap kewalian ini tidak berlaku. Hidup mereka selalu membahagiakan. Hidupnya tidak mudah terombang-ambing. Hidupnya nyaman, tenang, senang, dan damai. Pertanyaannya, siapakah mereka yang bisa mencapai tingkatan itu? Bisakah kita mencapai derajat sebagai seorang wali Allah? Apakah yang disebut wali Allah itu hanyalah orang-orang yang hidupnya selalu mengasingkan diri dari keramaian dan mempunyai keajaiban-keajaiban terkait dengan hal gaib? Kabar gembiranya, ternyata siapapun bisa mencapai derajat ini. Karena yang disebut dengan wali Allah, sebagaimana secara jelas disebutkan dalam QS. Yunus ayat 63, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa.

Jadi, paling tidak ada 2 hal yang menjadikan seseorang bisa disebut sebagai wali (kekasih) Allah, yaitu:

Yang pertama, beriman. 
Iman, menurut bahasa dapat diartikan "percaya", sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Orang yang beriman adalah mereka yang tidak hanya yakin dalam hatinya, tapi ia juga mengikrarkan keyakinan itu, dan dibuktikan dengan amalan-amalan yang dilakukannya. 

Seorang mukmin (orang yang beriman) sejati meyakini adanya Allah dan dia paham betul konsekuensi bagi seseorang yang yakin adanya Allah. Ia mau melaksanakan shalat sebagai bukti pengabdian kepada Allah, dia juga berpuasa sebagai bukti menjalankan perintah-Nya, dia juga berzakat sebagai bukti kepedulian kepada sesama seperti yang dianjurkan oleh-Nya. Dan begitupun dengan perintah-perintah Allah yang lainnya.

Keimanan kepada Allah juga melahirkan sikap mawas diri, selalu merasa disertai oleh Allah sehingga dalam menjalani hidup ia tidak gegabah, tidak semaunya saja. Dia selalu ingat bahwa hidup ada aturan yang selalu harus ditaati yang dibuat oleh Allah SWT dan disampaikan lewat lisan Rasul-Nya.

Tidak hanya itu, orang yang beriman juga meyakini adanya para malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah yang suci dan selalu taat kepada Allah. Maka, sebagai mukmin ia akan meniru ketaatan ini, dan akan selalu berhati-hati dalam bertindak karena kebaikan sekecil apapun akan dicatat oleh Malikat Raqib dan keburukan sekecil apapun akan selalu dicatat oleh Malaikat Atid. Maka hidup seorang mukmin jadi lebih tertata.

Beriman kepada adanya kitab-kitab Allah, Rasul-Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Qada dan Qadar kesemuanya itu akan membuat orang yang beriman sadar akan hidup yang dijalaninya, ia paham sebagai apa dia menjalani hidup di muka bumi ini, dan harus bagaimana ia menjalaninya agar sesuai dengan norma-norma dan peraturan yang sudah dibuat untuk dia sebagai insan yang beriman.

Orang-orang dengan sifat ini ketika ia sanggup untuk istiqomah, konsekuen dan konsisten dengan keimanannya maka ia akan hidup dalam ketenangan dan ketentraman. Hidupnya di dunia bak berada di surga sebelum surga akhirat nanti. Tenang, tentram, dan tidak gundah gulana. Ia akan menjadi sangat dekat dengan Allah, dan Allah, sesuai janji-Nya, akan mencukupi semua kebutuhan orang yang seperti ini. Dialah wali Allah.

Yang Kedua, bertaqwa.
Taqwa pada dasarnya adalah khasyyatullah, takut kepada Allah. Orang yang bertaqwa karena takutnya ia kepada Allah ia justru akan semakin dekat dengan Allah, hal ini sangat berbeda ketika seseorang takut kepada binatang buas tentu ia akan lari manghindar dan menjauh. Orang yang bertaqwa akan senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 

Orang yang bertaqwa tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Orang yang bertaqwa tidak bergantung kecuali hanya kepada Allah. Orang yang bertaqwa tidak berharap kecuali hanya kepada Allah. Mereka dekat... dekat... dan semakin mendekat kepada Allah. Jadilah mereka pribadi yang mencintai dan dicintai Allah. Mereka adalah orang-orang yang paling mulia di sisi Allah. 

Orang-orang yang bertaqwa dijanjikan Allah dengan reward yang banyak dan dahsyat dari Allah, diantaranya:
  1. akan diberi rezeki oleh Allah dari tempat atau cara yang tidak disangka-sangka.
  2. akan diberikan solusi/jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya.
  3. akan dimudahkan segala urusannya.
  4. akan diampuni dosa-dosanya.
  5. kelak ia akan dimasukkan ke dalam surganya Allah SWT.
dan masih banyak yang lainnya.

Inilah 2 hal yang menjadikan kita sebagai orang-orang yang dikasihi Allah, para auliyaa Allah. Mari kita perbaiki keimanan dan ketakwaan kita agar hidup kita penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, jauh dari kebimbangan, kegalauan, ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihan. 

Wallaahu a'lam...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar