Rabu, 06 November 2013

Penghalang Kesuksesan (2)

Penghalang #2: Takut Gagal

"Kegagalan pada hakikatnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, tetapi ia adalah jembatan untuk melewati jalur tercepat menuju kesuksesan." (Imam Munadi)

Kata "gagal" memang sering menjadi momok yang menakutkan bagi siapapun yang mau memulai sesuatu. Bagi yang belum paham hakikat kegagalan, ini akan menjadi batu ganjalan yang besar dalam perjalanan menuju sukses. Padahal, sebenarnya kegagalan dan kesuksesan itu ibarat dua mata uang. Jadi, kalau begitu kegagalan itu ada bukan untuk ditakuti ataupun jadi penghalang, justru kita jadikan kegagalan itu sebagai kesempatan kita untuk belajar. Setiap kesuksesan besar pasti selalu didahului dengan kegagalan-kegagalan besar. Setiap kita pasti pernah gagal, dan hal itu sangat wajar dalam kehidupan. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat menghadapi kegagalan itu.

Ada orang yang mengambil hikmah dari kegagalan yang dialaminya sehingga ia bisa melakukan hal yang lebih baik. Ada juga orang yang terpuruk dan "terduduk lesu" saat ia mengalami kegagalan. Ia beranggapan bahwa ia memang tidak layak untuk jadi orang sukses. Perlu diingat kembali, bahwa, bukan berapa kali kita terjatuh, tapi berapa kali kita bangkit setelah kita terjatuh. 

Bahkan lebih ekstrim lagi barangkali, orang-orang sukses malah menjadikan kegagalan itu sebagai sebuah "keharusan". Apa sebab? Mereka mengatakan bahwa sukses tanpa kegagalan itu terasa hambar. Bagaikan masakan tanpa garam. Kesuksesan akan terasa begitu indah dan nikmaaat kalau kita sudah berulang kali gagal. Maka pada saat kegagalan demi kegagalan itu datang mereka sampai pada titik harapan yang begitu tinggi, hatinya menjeriiit.... Sampai pada satu pertanyaan: "Kapankah kesuksesan itu bisa saya raih?" Atau seperti yang dikatakan oleh Rasul dan para sahabatnya saat perjalanan dakwah begitu sulit dan banyak sekali rintangan, mereka menjerit, menghunjamkan do'a dan berkata: "Kapankah pertolongan Allah itu akan datang?" Setelah itu dilewati dan kemenangan serta kesuksesan itu datang nikmatnya tiada tara. Sungguh enak, sungguh indah, sungguh membahagiakan.

Tapi, itu pun bukan berarti kita harus sengaja "menggagalkan diri" atau "pura-pura gagal", kalau memang kita bisa mengantisipasi kegagalan itu lebih baik tentunya. Sepanjang di sana ada upaya, ikhtiar yang sungguh-sungguh dan perjuangan yang luar biasa. Kita tidak hasrus selalu gagal sebagaimana yang sudah dialami oleh orang lain. Justru dengan melihat orang lain gagal dalam satu bidang tertentu, kita bisa belajar dari kegagalan yang orang lain alami agar kita tidak mengalami kegagalan yang sama. Ibaratnya kita bisa melipat waktu agar sekian banyak kegagalan orang lain bisa kita pelajari untuk kemudian kita ambil ibrah dan  kita melakukan hal yang lebih baik. Kalau itu sudah bisa kita lampaui, maka tugas kita adalah bagaimana kita membuat sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan orang dan siap untuk meraih kesuksesan yang lebih besar walaupun harus mengalami kegagalan. Dan setelah itu kita bangkit sebagai sosok yang berbeda dan mempunyai nilai lebih dibanding orang lain.

Next... Penghalang Kesuksesan (3); [Penghalang #3: Malas]

Senin, 04 November 2013

Penghalang Kesuksesan (1)

Setiap kesuksesan tidak ada yang kita raih dengan gratis. Selalu ada harga yang harus dibayar. Harga kelelahan, harga kesabaran, harga rasa sakit, harga rasa terhina, dan harga yang lainnya. Andai kita kurang kuat mempersiapkan mental kita, maka bisa jadi kesuksesan hanya akan jadi impian belaka. Konsistensi sangat diperlukan dalam meraih kesuksesan tersebut. Karena selalu ada hambatan, rintangan, penghalang, dan musuh-musuh kesuksesan yang akan terus menghadang di hadapan kita. Penghalang-penghalang kesuksesan tersebut harus betul-betul kita kenali agar kita bisa segera mengantisipasinya.

Apa saja penghalang-penghalang kesuksesan tersebut? Paling tidak ada 4 kategori besar yang bisa menjadi penghalang sukses kita, yang tentunya harus kita kenali untuk kita hindari dan buang jauh-jauh.

Penghalang #1 : Alasan

Ini merupakan penjara mental yang sulit sekali ditembus bagi orang yang sudah terbiasa terkungkung di dalamnya. Menghalau alasan sangat berkaitan erat dengan mengalahkan atau melawan diri sendiri. Ia seringkali muncul ketika diri kita terjatuh dalam ketidakberdayaan. Alasan biasanya digunakan untuk melakukan pembenaran terhadap kegagalan atau kekalahan yang kita alami. Atau agar dia yang mengalami kegagalan, kekalahan, atau ketidakberdayaan itu tidak disalahkan lebih jauh oleh orang lain. Maka beralihlah dia ke "posisi aman" dengan cara membuat alasan.
Di antara sekian banyak alasan, ada 3 alasan yang sangat sering digunakan oleh mereka yang bermental gagal.Ketiga alasan itu adalah nasib, usia dan pendidikan. Ketika seseorang mengalami kejumudan dan stak dalam menjalani kehidupannya, baik dalam pekerjaan, gaji ataupun keluarga, kalau ia orang yang bermental kalah ia akan mengatakan,"ini memang sudah nasib saya." Padahal dia belum berjuang maksimal. Ingat, bahwa nasib baik akan terjadi pada diri kita ketika persiapan yang telah matang, bertemu dengan kesempatan yang datang.

Begitu pun dengan usia. Banyak di antara kita yang pasrah menjalani kehidupan yang apa adanya dengan alasan usianya sudah tua, tidak muda lagi, atau sudah bukan usia produktif lagi. Padahal, kalau kita berkaca pada orang-orang sukses, banyak di antara mereka yang menggapai suksesnya justru di saat usianya sudah tua (untuk tidak mengatakan udzur). Mungkin kita pernah dengar bagaimana Kolonel Harland Sanders sukses denga KFC-nya pada usia di atas 70 tahun. Di Indonesia kita mengenal sosok penulis sukses dan produktif Hernowo yang mulai menulis pada usia 40 tahun. Usia dimana sebagian orang mengatakan bahwa usia 40 tahun adalah puncak usia kesuksesan. Artinya, kalau di usia 40 tahun orang belum jadi apa-apa itu pertanda kalau dia tidak akan sukses. Ternyata mitos itu bisa dipatahkan.

Pendidikan. Ini juga sering sekali jadi alasan sebagian orang untuk tetap hidup biasa-biasa saja. Pendidikan memang jadi salah satu ukuran seseorang bisa lebih baik. Tapi juga, tingginya pendidikan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesannya. Pendidikan tinggi tidak membuat sukses otomatis didapatkan. Sukses perlu perjuangan. Maka orang yang pendidikannya rendah tapi upayanya gigih untuk menggapai sukses dan dia mau belajar dari orang lain dan juga dari pengalaman, boleh jadi bisa lebih sukses dari orang berpendidikan tinggi tapi malas berupaya.

Next... Penghalang Kesuksesan (2) .[Penghalang #2 : Takut Gagal]

Sabtu, 02 November 2013

Gaya Kepemimpinan

Pada tulisan ini mungkin saya tidak bicara dengan bahasa manajemen ataupun leadership. Saya akan bicara apa yang saya alami dengan bahasa yang lugas saja, sesuai kemampuan saya. Entah ini disebutnya tentang kepemimpinan atau menajemen, atau memang keduanya saling berkaitan. Kayaknya sih saling berkaitan ya... Hehe...

Saya menyaksikan dua gaya kepemimpinan yang kontras antara dua lembaga yang ada dalam satu atap. Atap mana? Entahlah itu. Biarkan ia jadi misteri atau teka-teki bagi pembaca yang tidak mengetahuinya. Tapi, apapun itu, mudah-mudahan akan jadi ibrah dan contoh kongkrit yang akan membuat kita mawas diri dengan mengikuti/meneladani yang benar dan meninggalkan yang dirasa salah dan  tidak sreg.

Saudara-saudara sidang pembaca yang baik...
Pertama sekali saya mengalami kepemimpinan yang cukup demokratis dengan pembagian kerja yang lumayan proporsional. Beliau juga cukup tegas dalam menegakkan tonggak peraturan di sekolah. Namun, kekurangannya paket kepemimpinan ini cenderung "memusuhi" atau menjauhi pihak komite sekolah. Padahal salah satu kekuatan yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan sekolah adalah orang tua yang dalam hal ini diwakili oleh komite sekolah. Beliau menganggap orang tua (baca: komite) bisanya hanya menyalahkan apa yang menjadi kebijakan sekolah, tanpa melakukan pendekatan yang lebih intens guna menjadikan komite sebagai kekuatan dalam membangun sekolah yang berkualitas.

Setelah kepemimpinan ini berakhir, saya mempunyai harapan bahwa kepemimpinan berikutnya akan berjalan lebih baik dan lebih maju. Tapi ternyata, selain kebijakannya mencoba meniru kebijakan sebelumnya, paket yang ini juga cenderung peragu dalam hal membuat keputusan yang strategis dan tidak berani menawarkan sesuatu yang baru dan spektakuler. Maka, muncullah berbagai macam kritik yang kemudian menjadikan pemimpin masa ini menjadi cenderung emosional. Saya dan teman-teman dianggap tidak memperlakukan beliau secara manusiawi, karena segala keputusannya selalu dianggap salah. Nampaknya beliau sangat alergi terhadap kritik yang muncul, dan dianggap seolah menyudutkan beliau. 

Dalam melakukan pekerjaannya, lebih banyak memutuskan berbagai kebijakannya sendiri. Lebih tepatnya barangkali, beliau lebih mempercayai untuk membantunya kepada orang yang sebenarnya tidak termasuk dalam paket kepemimpinan beliau. Apa efeknya? Hal ini menimbulkan konflik batin yang luar biasa bagi seseorang yang ada dalam paket kepemimpinan itu, karena dia merasa dilangkahi oleh "wakil kepala" misterius tersebut. Pada akhirnya gejolak itu memakan korban. Dia yang merasa dikangkangi itu kemudian mundur teratur dan akhirnya meninggalkan sekolah ini. Padahal dia adalah salah satu senior yang merupakan aset besar sejarah sekolah ini.

Setelah satu "wakil" dalam paket kepemimpinan ini kosong, maka muncullah satu pengganti yang sebenarnya cukup mumpuni dalam bekerja tapi sangat lemah dalam kerja sama. Akhirnya, karena beliau merasa dirinya mampu menghandle semuanya maka muncullah jiwa rakus itu dalam dirinya. Yang terjadi berikutnya adalah, beliau seolah menjadi super woman yang bisa melakukan semuanya tanpa bantuan tim. Bahkan, sampai-sampai apapun yang dikatakan beliau menjadi titah yang harus dilaksanakan. Jadilah beliau seolah menjadi pengendali dari semuanya dan pelaku dari semuanya. Bayangkan, di sekolah ini, beliau pegang peran sebagai wakil kepala, wali kelas, sekretaris koperasi, pemegang tabungan, pengatur US-UN, bahkan banyak hal yang sebenarnya bukan tugas beliau tapi tetap saja diambil. Inilah yang saya sebut "bagus" dalam segi kerja, tapi buruk dalam kerja tim. Padahal, yang dibutuhkan dalam sebuah lembaga sebenarnya adalah pemimpin yang bisa menggerakkan bawahan sehingga bisa semua bisa bekerja dan bergerak secara otomatis tanpa harus dipaksa atau ditakut-takuti sanksi.

Gaya kepemimpinan yang seperti ini sebenarnya sangat rentan. Oke, ketika sang wonder women ini ada mungkin semua akan berjalan seperti baik-baik saja. Tapi, kenyataan pahitnya nanti akan dirasakan ketika sang pemimpin ini berhalangan maka akan terjadi chaos. Oleh karena itu, sebenarnya yang bagus adalah gaya kepemimpinan kolektif, di samping ia bisa menjadikan tim yang solid, juga akan memberikan banyak pelajaran berharga bagi siapapun yang masih awam dalam hal keorganisasian yang akan melahirkan regenerasi dan kaderisasi yang baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa melahirkan pemimpin baru yang siap untuk maju saat pemimpin yang ada saat ini sudah tidak menjabat lagi atau sudah tidak ada. 

Selain itu, mulailah muncul kebijakan-kebijakan yang macam-macam yang memunculkan kesan serem dan menakutkan. Muncullah sanksi ini dan itu tanpa mempertimbangkan adanya reward yang lebih manusiawi dan terkesan ramah. Ini tidak harus selalu berupa materi atau uang. Reward bisa berupa senyuman tulus, tepukan dipundak, ucapan selamat datang, selamat ulang tahun, ataupun hal-hal kecil yang menunjukkan keramahan dan perhatian yang besar dari pimpinan. Mau seperti apa lemga ini kedepan dengan gaya kepemimpinan seperti ini? Saya juga kurang tahu. Mudah-mudahan kedepan bisa lebih baik dan lebih maju.

Saya pun menyaksikan satu gaya kepemimpinan yang berbeda di seberang sana. Beliau memang tidak bisa hadir full dari pagi sampai sore. Beliau baru bisa datang biasanya sekitar jam 2 siang sampai jam 4 sore. Tapi, kehadirannya sepertinya selalu dirasakan oleh orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Perhatian dan tanggung jawabnya sangat kental terasa apalagi saat ada kegiatan sekolah. Beliau sangat ramah, peduli kepada bawahan, sangat egaliter, dan menjadi rekan kerja yang asyik bagi bawahannya. Walaupun sedikit kebersamaannya tapi kualitasnya bahkan melebihi pemimpin yang hadir secara full di sekolah. Saya pikir, beliau adalah teladan yang harus diikuti oleh siapapun yang ada di sekitarnya, apalagi oleh mereka yang memang dikader untuk menjadi penggantinya.

Wallahu a'lam...