Sabtu, 23 November 2013

Menjadi Guru Jempolan (2-Habis)


4. Contribution (Kontribusi); Mengajar pada dasarnya adalah berbagi ilmu. Maka kontribusi utama  seorang guru adalah memberi kontribusi untuk kebaikan anak didiknya di masa yang akan datang. Akan tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, seorang guru tidaklah hanya terpaku untuk memberi kontribusi kepada peserta didiknya saja di sekolah, ia juga harus bisa memberi warna kepada lingkungan masyarakat yang lebih luas. Karena biasanya seorang guru tidak hanya menjadi tokoh panutan di sekolah saja, tapi ia juga merupakan tokoh panutan untuk masyarakat dimana ia tinggal. Guru yang baik tentu akan senantiasa berpikir manfaat apa yang dapat ia berikan untuk orang lain. Bagaimana memberi manfaat kepada lingkungan, baik lingkungan kecil maupun lingkungan dalam scop yang lebih besar. Karena "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain." Itulah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya. Hal ini meniscayakan seorang guru untuk terus berlomba memberikan yang terbaik kepada pihak yang berhubungan dengannya. 

5. Class Sample (Menjadi contoh di kelas); Guru merupakan sosok yang diguru dan ditiru. Guru adalah uswah atau teladan bagi para peserta didiknya. Sekecil apapun yang dilakukan oleh seorang guru, ini akan menjadi sebuah model yang akan diikuti oleh anak-anak. Baik buruknya perilaku anak sedikit banyak juga dipengaruhi oleh keteladanan kita di hadapan mereka. Maka, kehati-hatian dalam berucap dan bertingkah laku mutlak harus dipegang. Kita dituntut untuk berbuat sejujurnya dalam perilaku keseharian kita, jangan sampai apa yang kita katakan tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan. Atau jangan sekali-kali kita bermuka dua, di depan anak-anak kita kalem, baik, shalih, tapi di luar itu kita menjadi seseorang yang serampangan. 
Mengapa demikian?
Karena ternyata, kalau apa yang kita katakan tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan, biasanya kata-katanya akan terasa tumpul dan tidak bertenaga. Ia akan menyampaikannya dengan setengah hati. Sebagai contoh, seorang guru yang menganjurkan anak-anak didiknya untuk rajin membaca Al-Qur'an setiap hari sedangkan dia sendiri tidak pernah baca Qur'an, maka kata-katanya akan terasa hambar di mata mereka. Karenanya, Allah mengingatkan kepada kita dengan sebuah pertanyaan retoris: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan." Na'udzubillah. Dari itulah muncullah sebuah ungkapan "Lakukan apa yang kamu katakan, katakan apa yang kamu lakukan."

Wallahu a'lam... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar